gusholis-net™- Harian al Dustur edisi 22 November
2008 menyebutkan, seorang insinyur Israel di kota al Quds, Ory Shatrit,
mengungkap tentang adanya rencana strategi yang disiapkan Israel untuk
melakukan yahudisasi kota al Quds dari Agustus tahun 2004 hingga tahun 2020.
Tujuan dari rencana ini jelas, ungkap Shatrit. Yaitu
yahudisasi al Quds (Jerusalem). Dia menegaskan bahwa al Quds adalah ibukota
Israel dan harus tetap berada di bawah control politik Israel.
Saat memaparkan rencana Israel tahun 2020 ini Shatrit
mengatakan, “Tujuan inilah yang ingin dicapai oleh Negara (Israel). Rencana
yang diperoleh dari pemerintah kota al Quds dan sudah disetujui oleh Negara ini
sudah diajukan. Diharapkan komposisi penduduk al Quds (Jerusalem) pada tahun
2020 30% Arab dan 70% Yahudi.”
Dia mengakui bahwa berdasarkan kondisi yang ada saat ini di
kota al Quds, maka untuk mencapai tujuan ini dalam tahun-tahun dekat ini sulit
untuk dicapai.
Dia mengatakan, “Peristiwa-peristiwa yang dilalui al Quds
sejak tahun 1967 membuktikan sulitnya mencapai tujuan ini. Masalah ini nampak
jelas pada tahun-tahun 1990-an, di mana hubungan prosentase antara Arab dan
Yahudi sangat jauh dari yang diharapkan, yakni 30% dan 70%.”
Yahudikan al Quds, Hancurkan al Aqsha dan Dirikan Kuil
Sejak proklamasi berdirinya entitas negara zionis Yahudi
pada tahun 1948 dan pengakuan terhadap entitas ini serta terhadap elemen
pendukungnya, Israel merencanakan pengokohan perangkat-perangkat penopang bagi
entitas ini dan menjadikan al Quds sebagai ibukotanya. Bersamaan dengan munculnya
negara Israel, muncul konspirasi-konspirasi dan serangan-serangan permusuhan
terhadap masjid al Aqsha. Tujuannya, melenyapkan peta sejaran Palestina untuk
kemudian membangun diatasnya kuil Sulaiman. Orang-orang Yahudi mulai mengangkat
semboyan, "Tidak ada artinya bagi negara Israel tanpa kuil dan tidak ada
artinya kuil jika masjid al Aqsha masih ada."
Berdasarkan sumber-sumber Palestina dan Israel, bahwa di
sana ada 25 organisasi teroris zionis yang kesemuanya bekerja sepanjang waktu
untuk menyahudikan al Quds dan mengusir warganya dari sana. Kemudian
menghancurkan masjid al Aqsha dengan tujuan untuk mendirikan kuil di atasnya.
Selanjutnya dimaklumatkan bahwa kota al Quds (Jerusalem) adalah ibukota negara
"Israel". Di samping itu bahwa negera "Israel" dengan
insttusi-institusinya baik departemen maupun non departemen mendukung
kelompok-kelompok teroris ini dan bergandengan tangan dengan anggota-anggota
mereka yang radikal. Kemudian memberikan justifikasi setiap kejahatan yang
mereka lakukan dalam orientasi ini. Berbagai upaya keji ini memiliki, paling
tidak, tiga orientasi:
Pertama: Serangan terhadap al Aqsha
Aksi-aksi permusuhan ini terwujud dalam bentuk penggalian
terowongan di bawah masjid al Aqsha yang telah dimulai sejak perang tahun 1967
(antara Arab dan Israel). Kala itu zionis Israel menguasai wilayah al Quds
Timur (Jerusalem) dan menguasai seluruh wilayah Baitul Maqdis. Penggalian
terowongan ini telah dimulai kala itu dengan dalih sebagai aktifitas biasa yang
alasannya adalah untuk mendapatkan manfaat ilmiyah dan kajian sejarah.
Penggalian ini telah melewati 10 tahap yang meliputi seluruh bagian masjid al
Aqsha. Sampai-sampai fondasi masjid al Aqsha hari ini kosong dan masjid berdiri
di atas tiang-tiang semu yang akan sangat mudah runtuh begitu terkena goncangan
dari gempa bumi, baik itu gempa biasa (alami) maupun buatan sebagaimana gempa
yang pernah diuji cobakan zionis Israel di Nagev sebagai persiapan langkah yang
sudah pasti.
Masjid al Aqsha juga mengalami berbagai aksi serangan
pembakaran dan serangan-serangan permusuhan lainnya. Dan saat ini, dinas-dinas
intelijen serta keamanan dalam negerai "Israel" mengungkapkan
kekhawatirannya atas kemungkinan peledakan masjid al Aqsha oleh tangan-tangan
kaum radikal Yahudi. Meskipun di sana ada kemungkinan terjadi krisis internal
Israel atau sanksi ekternal yang mendorong pemerintah penjajah Israel
mengungkap kemungkinan-kemungkinan serangan ini, namun niat zionis yang keji
untuk menghancurkan al Aqsha dan pembangunan Kuil tetaplah masih kokoh.
Kedua: Yahudisasi al Quds
Program yahudisasi al Quds telah mengambil berbagai arah
orientasi dan trek, yang utamanya adalah merubah rambu-rambu dan
margin-marginnya; menyahudikan sarana dan prasarana umum yang ada di al Quds;
pemusatan institusi-institusi zionis Yahudi di al Quds seraya menghapus
identitas dan budaya nasional lama al Quds; yahudisasi pendidikan, ekonomi dan
peradilan; penggusuran rumah-rumah warga Palestina secara berkesinmbungan serta
yahudisasi bangunan dan perumahan; melakukan rencana-rencana permukiman untuk
para pendatang Yahudi baru secara berkesinambungan. Pemerintah Israel juga
membuat sejumlah undang-undang di mana pokoknya adalah penggabungan al Quds
(dalam wilayah Israel), undang-undang kepemilikan tanah yang ditinggalkan
pemiliknya, undang-undang ganti rugi dan penuntutan kembali harta kekayaan
orang Yahudi, undang-undang alih kepemilikan dan undang-undang kembali ke tanah
Israel. Zionis Israel juga melakukan perluasan al Quds dan membangun 'sabuk'
permukiman Yahudi yang mengelilingi al Quds. Zionis Israel juga merekayasa
pengusiran warga Palestina penduduk al Quds dengan dalih kondisi demografi.
Memberlakukan kebijakan penutupan dan pengepungan serta berbagai jenis pungutan
pajak. Terakhir zionis Israel membangun tembok pemisah rasial dengan
pintu-pintu dan memberlakukan sistem keluar masuk al Quds lewat pintu-pintu
ini. Semua itu tujuannya tidak lain adalah untuk memaksa warga Palestina di al
Quds hengkang dan pergi secara perlahan untuk kemudian digantikan oleh
orang-orang zionis Yahudi.
Ketiga: Pembangunan Kuil
Zionis Yahudi berpendapat bahwa tidak ada artinya bagi
negara "Israel" tanpa pembangunan kuil. Mereka sekarang ini tengah
bersiap-siap untuk membangun ini dan mengumpulkan dengeng-dongeng mereka yang
mengatakan bahwasanya tidak boleh menunda pembangunan kuil melebihi tahun 2005.
Itu karena mereka berkeyakinan bahwa turunnya al Masih sudah dekat. Tidak boleh
terjadi al Masih datang sementara kuil belum ada. Saat ini mereka telah
menyiapkan batu-batu kuil sebagaimana halnya mereka juga telah menyiapkan
contoh repilika kuil yang akan dibangun. Mereka tengah menunggu-nunggu
kesempatan yang tetap untuk memasukan batu-batu ini ke dalam Baitul Maqdis dan
memulai pembangunan kuil. Namun mereka menolak melakukan pembangunan kuil dengan
kewujudan masjid al Aqsha. Oleh kerena itu mereka berpendapat harus dilakukan
penghacuran masjid al Aqsha terebih dahulu kemudian baru dibangun kuil setelah
itu. Kita telah membaca dan mendengar skenario-skenerio radikal zionis yang
diajukan untuk menghancurkan masjid al Aqsha. Di antara mereka ada yang
berpendapat dengan menciptakan gempa buatan dekat dengan masjid untuk
meruntuhkan masjid. Kemudian setelah itu zionis Yahudi mengklaim bahwa itu
adalah gemba alami. Di antara mereka ada yang berpendapat dengan meledakannya
dengan bom. Dan di antara mereka ada yang berpendapat dengan serangan pesawat
atau dengan rudal dan lain sebagainya.
Begitulah, bahwa kita mendapati yahudisasi al Quds,
penghancuran masjid al Aqsha dan pembangunan kuil adalah strategi zionis untuk
satu skenario bagi Palestina.
#SAVE PALESTINE






0 komentar:
Posting Komentar